Gelombang aksi demonstrasi yang berlangsung di berbagai wilayah Indonesia ternyata membawa dampak tak terduga bagi sektor layanan pesan-antar makanan. Grab, salah satu perusahaan ride-hailing dan layanan antar makanan terbesar di tanah air, mencatat adanya lonjakan signifikan dalam jumlah pesanan makanan selama periode aksi berlangsung. Menariknya, sebagian besar pesanan tersebut justru tercatat berasal dari luar negeri.
Fenomena ini menjadi sorotan publik lantaran tidak biasa. Biasanya, peningkatan pesanan makanan lebih sering terjadi saat momen libur panjang, akhir pekan, atau perayaan tertentu. Namun kali ini, tren itu muncul bersamaan dengan maraknya aksi demonstrasi. Lonjakan tersebut bukan hanya terjadi di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, atau Bandung, tetapi juga merambah ke daerah lain yang menjadi pusat perhatian selama demo berlangsung.
Data internal Grab menunjukkan bahwa ribuan pesanan masuk dalam waktu singkat, dengan variasi menu yang dipesan cukup beragam, mulai dari makanan cepat saji, minuman kopi, hingga kuliner lokal khas daerah tertentu. Fakta unik lainnya, banyak pesanan yang dikirim ke titik-titik lokasi demonstrasi, seolah-olah mendukung para peserta aksi yang berada di lapangan.
Namun, yang paling mengejutkan adalah sumber pemesanan. Grab mengungkapkan bahwa sebagian besar transaksi tersebut dilakukan oleh pengguna dengan domisili atau metode pembayaran luar negeri. Hal ini memunculkan spekulasi bahwa dukungan moral dan logistik bagi para demonstran datang tidak hanya dari dalam negeri, tetapi juga dari pihak-pihak di luar Indonesia.
Pihak Grab sendiri menegaskan bahwa mereka hanya berfungsi sebagai platform yang mempertemukan pengguna dengan mitra pengemudi dan mitra restoran. Mereka tidak memiliki keterlibatan langsung terhadap siapa pun yang memesan maupun tujuan dari pesanan tersebut. Meski begitu, lonjakan permintaan ini membuat banyak mitra pengemudi menerima tambahan pemasukan di tengah situasi jalanan yang padat dan penuh risiko.
Sejumlah pengamat menilai fenomena ini sebagai bukti bahwa teknologi digital telah mengubah cara masyarakat terhubung satu sama lain, bahkan dalam konteks aksi politik. Pemesanan makanan dari luar negeri bisa menjadi simbol solidaritas, dukungan moral, atau sekadar bentuk partisipasi virtual dari warga diaspora Indonesia maupun pihak asing yang mengikuti perkembangan situasi di tanah air.
Di sisi lain, kondisi ini juga menimbulkan sejumlah pertanyaan baru, mulai dari regulasi transaksi lintas negara hingga keamanan data pengguna. Apalagi, transaksi dengan skala besar dari luar negeri kerap kali memicu kekhawatiran soal potensi penyalahgunaan.
Fenomena lonjakan pesanan makanan di tengah demo ini pun menjadi catatan penting, bagaimana sebuah aksi massa kini tak hanya berlangsung di jalanan, tetapi juga mendapat resonansi di dunia digital dan bahkan lintas batas negara. Peran platform layanan daring seperti Grab menunjukkan bahwa teknologi bisa menjadi medium yang menyatukan orang-orang, baik sebagai konsumen maupun sebagai bagian dari peristiwa sosial yang lebih besar.