WULAN GURITNO: KETIKA FOTO DAN REALITA BERTEMU — KITA JUGA MANUSIA

 



Jakarta — Baru-baru ini jagat maya kembali gaduh membahas seorang publik figur yang sudah lama kita kenal: Wulan Guritno. Di tengah derasnya arus konten di media sosial, muncul video singkat yang memperlihatkan wajah Wulan tanpa sentuhan filter atau makeup tebal — sesuatu yang kemudian ramai diperbincangkan dan menjadi bahan komentar netizen. Dari situ muncullah pertanyaan klasik tapi penting: bagaimana sebaiknya kita memandang tubuh dan wajah publik figur ketika mereka muncul dalam versi yang "kurang sempurna" menurut standar media sosial?

Dari unggahan ke video: satu momen, banyak tafsir

Sebuah video yang beredar menampilkan tekstur kulit Wulan yang berbeda dari potret glamornya di Instagram. Tidak perlu waktu lama, unggahan itu menjadi viral dan memancing beragam komentar — mulai dari simpati, kekaguman, sampai sindiran yang menyakitkan. Fenomena semacam ini bukan hanya soal Wulan; beberapa selebritas lain juga pernah mengalami hal serupa ketika foto editorial atau potret profesional dibandingkan dengan foto candid. Namun yang berbeda adalah kecepatan dan luasnya reaksi publik di era platform video singkat.

Reaksi Wulan: tajam, lugas, dan menyentil

Daripada larut dalam defensif, Wulan memilih memberi respons yang singkat tetapi menyentuh: ia mengingatkan bahwa semua orang, termasuk artis, adalah manusia yang punya kekurangan. Unggahan singkatnya menyiratkan pesan bahwa bekas luka, bopeng, atau tekstur kulit bukanlah aib — melainkan bagian dari pengalaman hidup. Nada jawabannya menunjukkan kedewasaan; ia memilih untuk menegaskan martabat diri di tengah komentar yang kerap melecehkan.

Mengapa kita cepat menilai? — psikologi di balik komentar

Ada beberapa faktor yang membuat publik mudah menghakimi penampilan selebritas. Pertama, ekspektasi media sosial yang memuja kehidupan "sempurna". Foto dengan pencahayaan pas, makeup profesional, dan editing kromatik membuat standar kecantikan terasa sempit dan tak realistis. Kedua, efek jarak (anonimitas) di internet membuat orang lebih mudah mengeluarkan komentar pedas karena merasa aman dari konsekuensi sosial. Ketiga, budaya gosip yang mengangkat perbedaan sebagai konsumsi hiburan.

Jika kita mundur sejenak, kita akan melihat ada dampak nyata dari komentar-komentar tersebut — bukan hanya pada perasaan individu, tetapi juga pada persepsi kolektif tentang tubuh dan standar kecantikan yang kita wariskan ke generasi muda.

Publik figur juga manusia: soal empati yang hilang

Pernyataan Wulan, "kita juga manusia," sesungguhnya menegaskan kebutuhan dasar yang sering dilupakan: empati. Menyentuh masalah self-worth, pernyataan itu membuka ruang diskusi mengenai bagaimana kita memperlakukan orang lain — terlebih ketika perbedaan hanyalah sebuah foto atau video singkat. Ketika seleb mengunggah momen jujur, respons terbaik bukanlah 'ekspos' atau 'viral', melainkan penghormatan atas keberanian mereka menjadi nyata.

Download dengan Timer

Media dan tanggung jawab pemberitaan

Tak kalah penting adalah peran media — baik media sosial maupun media arus utama — dalam menyikapi isu seperti ini. Headline yang provokatif atau potret yang diambil tanpa konteks dapat memperkeruh suasana dan memperpanjang siklus penghinaan. Media yang bijak akan menempatkan peristiwa ini dalam perspektif yang lebih manusiawi: bukan sekadar mencari clickbait, tapi juga menjelaskan konteks dan mengedukasi pembaca tentang etika bertutur di ranah publik.

Perspektif praktis untuk pembaca dan pembuat konten

Untuk pembaca: sebelum mengomentari, tanyakan pada diri sendiri apakah komentar itu membangun atau merendahkan. Apakah tujuan kita sekadar menghibur diri sendiri dengan meremehkan orang lain? Atau bisa jadi komentar tersebut menambah beban pada seseorang yang sudah berjuang?

Untuk kreator konten: penting untuk mempertimbangkan dampak jangka panjang dari unggahan yang mengekspos orang lain tanpa izin atau konteks. Viral itu menggoda, tetapi etika harus mendahului.

Menutup babak: kebijakan pribadi sebagai perisai

Akhirnya, kasus Wulan Guritno ini mengingatkan kita bahwa ketahanan mental selebritas bukan jaminan bahwa mereka bebas dari luka. Kata-kata pedas yang terlontar di kolom komentar mungkin dianggap sepele oleh sebagian orang, namun bagi penerima bisa meninggalkan bekas.

Sebagai penutup: mari jadikan momentum ini untuk merenung. Sebelum mengetik komentar berikutnya, bayangkan jika itu ditujukan pada orang yang kita kasihi. Jika kita tidak ingin orang lain mengatakannya pada keluarga kita, mungkin itu bukan hal yang layak kita sampaikan kepada orang lain.


Catatan: Artikel ini ditulis ulang secara orisinal sebagai opini panjang yang mengurai peristiwa dan konteks seputar viralnya wajah Wulan Guritno. Jika Anda ingin versi yang lebih singkat untuk sosial media, atau ingin saya ubah nada tulisan ke lebih tajam/santai/formal, bilang saja — saya buatkan.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama