Jakarta — Nama Shin Tae-yong kembali mencuat di dunia sepakbola Asia Tenggara setelah kabar mengejutkan bahwa ia masuk dalam daftar pendek calon pelatih baru untuk Timnas Thailand. Kehadiran nama pelatih asal Korea Selatan ini menandai sebuah kemungkinan menarik bagi skuat “Gajah Perang”, yang tengah menjalani proses perombakan di pucuk pelatihannya.
Berdasarkan laporan media Thailand, asosiasi sepakbola negara tersebut, Football Association of Thailand (FAT) telah memutuskan untuk mendepak pelatih sebelumnya, Masatada Ishii, pada tanggal 21 Oktober 2025, sebagai bagian dari upaya mereka untuk menemukan sosok yang mampu membawa tim ke level selanjutnya.
Sementara itu, interim coach ditunjuk untuk mengisi kekosongan sementara—yakni Anthony Hudson, yang sebelumnya menjabat sebagai Direktur Teknik FAT.
Shin Tae-yong sendiri memiliki rekam jejak yang cukup signifikan dalam kancah sepakbola Asia Tenggara, terutama ketika ia menukangi Timnas Indonesia dari tahun 2020 hingga 2025. Pengalaman ini dipandang sebagai aset karena ia telah terbiasa bekerja dengan kultur sepakbola di regional ini.
Namun demikian, meskipun namanya muncul sebagai kandidat, Shin secara terbuka menyatakan bahwa ia masih membuka peluang untuk kembali membesut Timnas Indonesia jika ada tawaran dari PSSI—konfederasi sepakbola Indonesia.
Di sisi lain, FAT tidak hanya menyoroti Shin. Beberapa kandidat lain yang juga dikaitkan dengan jabatannya adalah pelatih veteran seperti Park Hang-seo, yang sebelumnya sukses menukangi Timnas Vietnam, serta sejumlah pelatih lokal Thailand seperti Totchawan Sripan dari klub Bangkok United. Hal ini menunjukkan bahwa proses seleksi FAT akan mempertimbangkan faktor regional—baik pengalaman internasional maupun pengetahuan mendalam mengenai sepakbola Thailand.
Bagi Shin, tawaran ini — jika benar terlontar — menjadi pilihan strategis yang memiliki dua sisi. Di satu sisi, ini adalah kesempatan emas untuk memperkuat portofolio internasionalnya dan menguji kembali kemampuannya di level tim nasional selain Indonesia. Di sisi lain, ini juga berarti ia harus menghadapi tantangan baru: adaptasi terhadap karakter pemain Thailand, tekanan tinggi penggemar, dan ekspektasi besar dari manajemen FAT untuk segera mengembalikan kejayaan tim.
Dari perspektif Timnas Thailand, memasukkan Shin ke dalam radar menunjukkan ambisi mereka untuk membangun ulang tim dengan pendekatan yang lebih matang dan terstruktur. Selama masa jabatannya, Ishii gagal membawa tim ke performa maksimal, sehingga FAT ingin melakukan reset dengan mencari pelatih yang bisa menghadirkan perubahan nyata — baik di sisi taktik, mental, maupun hasil di lapangan.
Menilik ke belakang, saat menangani Timnas Indonesia, Shin memanfaatkan gaya bermain yang adaptif dan ambisius — ia berusaha membentuk identitas tim yang lebih modern dan agresif. Pengalamannya ini bisa menjadi poin plus jika nanti menjadi juru taktik Thailand, apalagi dengan semakin ketatnya persaingan di ASEAN dan Asia. Tetapi tentu, ada banyak hal yang harus dilihat: bagaimana ia akan menyesuaikan dengan kultur sepakbola Thailand, bagaimana ia akan mendapat kepercayaan dari pemain, dan bagaimana ia akan bekerja dengan infrastruktur sepakbola di negeri gajah tersebut.
Bagi pengamat sepakbola Indonesia dan Thailand, pergerakan ini perlu dipantau karena bisa menjadi tonggak baru bagi penguatan hubungan kawasan dalam sepakbola, serta pengaruh tim nasional Indonesia bila Shin benar saja berlabuh ke Thailand. Apakah ini akan membuka jalan bagi kolaborasi taktik antarnegara, atau justru menjadi polemik “pindah ke rival regional”?
Sementara itu, PSSI dan Asosiasi Indonesia masih belum mengunci posisi pelatih atau mengonfirmasi secara resmi apakah Shin akan kembali atau tidak — sehingga opsi bagi Shin tetap terbuka. Bagi Shin sendiri, memilih Timnas Thailand berarti mengambil risiko besar namun juga potensi keuntungan besar.
Penutupnya, jika benar bibit rumor ini berbuah kenyataan, maka perubahan kursi pelatih Timnas Thailand akan menjadi sinyal kuat bahwa region ASEAN semakin berani bergerak dan berinvestasi pada figur-figur yang memiliki rekam jejak di luar negeri. Dan bagi Shin Tae-yong, ini bisa menjadi babak baru dalam karirnya — bukan hanya sebagai pelatih dengan pengalaman di Indonesia, tetapi sebagai arsitek yang mungkin akan membawa Timnas Thailand ke babak baru prestasi.
Semoga artikel ini bermanfaat sebagai perspektif segar terkait kabar terbaru di dunia sepakbola Asia Tenggara.