Jakarta – Konten kreator asal Korea Selatan yang kini menetap di Indonesia, Na Dae-hoon, membagikan kisah pribadi yang menyentuh tentang masa kecilnya, sekaligus menegaskan komitmennya sebagai seorang ayah—di tengah kabar miring yang menimpa rumah tangganya.
Dae-hoon mengungkap bahwa dirinya tumbuh besar dalam kondisi “broken home”, yakni saat kedua orang tuanya berpisah ketika ia baru berusia empat tahun. Ia menceritakan bahwa kehidupan tak selalu mudah: sang ayah sibuk bekerja, sementara ibunya tinggal jauh dari rumah. Ia menyatakan bahwa selama masa kecilnya, ia merasa seringkali harus terlihat kuat demi menghadapi stigma “anak broken home” yang melekat.
“Semasa kecilku, nenekku kerap menekanku agar jadi tahan banting—agar aku tidak dipandang lemah oleh orang lain,” tulis Dae-hoon dalam unggahan TikTok-nya yang diberi judul Refleksi Seorang Ayah Tentang Kehilangan dan Cinta. Kondisi ini kemudian memupuk tekadnya: ia ingin menjadi sosok ayah yang sebaliknya—yang memberikan hangatnya kasih sayang, rasa aman, dan kepercayaan diri kepada anak-anaknya kelak.
“Kalau suatu hari aku menjadi seorang ayah, aku ingin semuanya berbeda. Aku ingin anak-anakku tahu bahwa dicintai tidak perlu alasan... Karena selama aku masih ada, aku akan selalu jadi rumah yang bisa kalian pulang.”
Kabar Isu dan Tantangan di Tengahnya
Sementara itu, kabar yang beredar belakangan turut menambah sorotan terhadap kehidupan pribadi Dae-hoon. Sebuah akun TikTok bernama @secretlifeofjule mengklaim bahwa proses perceraian antara Dae-hoon dan istrinya, Julia Prastini (alias “Jule”), saat ini tengah berjalan. Isu ini sendiri muncul setelah berbagai spekulasi viral mengenai hubungan mereka dan dugaan perselingkuhan. Hal tersebut menambah tekanan publik pada Dae-hoon—yang di satu sisi ingin fokus pada komitmennya sebagai ayah, namun di sisi lain tengah menghadapi kebisingan media dan rumor yang berkembang.
Tekad dan Fokus Baru: Menjadi Ayah yang “Berbeda”
Lewat unggahan pribadinya, Dae-hoon jelas menyampaikan bahwa pengalaman masa kecilnya menggerakkannya untuk menawarkan sesuatu yang berbeda bagi generasi berikutnya—terutama anak-anak yang mungkin punya latar belakang serupa. Ia menegaskan bahwa kehadirannya sebagai “rumah”—tempat yang aman dan penuh kasih—adalah janji yang ingin ia lunaskan. Pernyataan ini menyiratkan bahwa meski dirinya sekarang berada dalam sorotan isu, ia memilih untuk tidak terjebak dalam keributan semata; melainkan mengedepankan refleksi dan aksi nyata sebagai ayah.
Mengapa Cerita Ini Layak Dicermati?
-
Penggalan kisah nyata: Tidak hanya kabar gosip, narasi Dae-hoon tentang perjuangan masa kecil dan sifat “broken home” memberi perspektif lebih dalam tentang bagaimana pengalaman masa lalu bisa membentuk seseorang.
-
Komitmen personal: Dalam era media sosial yang cepat melabelkan selebriti dengan tuduhan, Dae-hoon memilih untuk membagikan sisi reflektifnya—bukan sekadar bantahan atau klarifikasi rumor.
-
Dilema publik-privat: Di satu sisi ia figur publik yang sering menjadi sorotan, di sisi lain ia pribadi yang menghadapi cobaan pernikahan dan ingin tetap berfokus pada keluarga.
-
Inspirasi untuk banyak orang: Khususnya mereka yang tumbuh dengan situasi keluarga kurang ideal—kisah ini memberikan gambaran bahwa bukan masa kecil yang menentukan segalanya, tetapi bagaimana seseorang menyikapinya.
Penutup
Kisah Dae-hoon menggambarkan perjalanan yang kompleks: dari luka masa kecil, melalui tantangan rumah tangga yang disorot publik, hingga sebuah tekad untuk menjadi “ayah yang penuh cinta”. Apakah kabar pertengkaran atau perceraian akan benar-benar terjadi, atau justru menjadi momentum bagi perubahan dan pemulihan, waktu yang akan menentukan. Namun, yang jelas: suara dan ungkapan jujur Dae-hoon tentang apa artinya menjadi ayah—dan rumah bagi anak-anaknya—layak mendapat apresiasi.